PROPOLIS TERBAIK dengan kandungan 400 senyawa kimia dan Bioflavanoid paling tinggi
|
New Page 1
Atasi Sinusitis dengan Obat dan Terapi Laser
JIKA Anda menderita flu berkepanjangan, minimal selama dua minggu berturut-turut bahkan sampai mengeluarkan bau yang tak sedap, Anda terkena sinusitis. Untuk mengatasinya ada banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah terapi laser. Sinar laser akan mengurangi pembengkakan dan membuka sumbatan akibat peradangan.
Menurut dr Oetomo Hs dari Multi Terapi Klinik, Slipi, Jakarta Barat,
sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Sinusitis banyak
ditemukan pada penderita hay fever yang menderita pilek selama bertahun-tahun
karena alergi terhadap debu dan aroma yang berbau tajam, seperti bumbu masak.
Sinusitis terjadi juga karena bahan iritan, seperti bahan kimia yang terdapat
pada semprotan hidung serta bahan kimia lainnya yang masuk melalui hidung.
Sinus atau yang biasa disebut dengan sinus paranalisin ini adalah rongga
udara yang terdapat dari tulang tengkorak di sekitar wajah yang berfungsi
memperingan tengkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang, kiri dan kanan, yaitu
sinusitis frontalis yang terletak di bagian dahi, sinus maksilaris terletak di
bagian dahi, sinus maksilaris terletak di belakang pipi, sinus sphenoid dan
sinus ethmoid yang terletak agak lebih dalam di belakang rongga mata dan di
belakang.
Dinding sinus dibentuk oleh sel-sel penghasil cairan mukus. Udara masuk ke
dalam sinus melalui sebuah lubang kecil yang menghubungkan rongga sinus dengan
rongga hidung yang disebut dengan ostia. Jika lubang ini buntu, udara tidak akan
bisa keluar-masuk dan cairan mukus yang diproduksi di dalam sinus tidak bisa
keluar.
Sinusitis disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, flu, alergi, dan
bahan iritan yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan pada ostia sehingga
lubang drainase ini buntu dan mengganggu aliran udara sinus serta cairan mukus.
"Bisa juga yang menjadi penyebab lainnya itu adalah tumor dan trauma," sambung
dr Oetomo Hs.
Drainase cairan mukus keluar dari rongga sinus, lanjut dr Oetomo Hs, dapat
terhambat oleh pengentalan cairan mukus itu sendiri. Pengentalan ini terjadi
karena obat antihistamin, penyakit fibro kistik dan lain-lain. Sel penghasil
mukus memiliki rambut halus (silia) yang selalu bergerak untuk mendorong cairan
mukus keluar dari rongga sinus. Asap rokok merupakan biang kerok dari rusaknya
rambut halus ini.
Cara membuang ingus yang salah juga dapat menjadi salah satu penyebab karena
sebagian dari ingus yang seharusnya keluar malah masuk ke rongga dan susah
dikeluarkan. Faktor lainnya adalah merokok. Hawa panas yang dihisap akan
merangsang organ-organ di sekitar hidung sehingga menimbulkan iritasi.
Kemungkinan timbulnya sinusitis menjadi lebih besar. "Kadang juga dapat terjadi
akibat infeksi gigi dan biasanya mengenai sinus maksilaris atau rongga pada
kedua pipi," terangnya.
Sinusitis dapat dibagi menjadi dua tipe. Pertama, berdasarkan lamanya
penyakit seperti akut, subakut, dan kronis, serta berdasarkan jenis peradangan
yang terjadi, seperti infeksi dan noninfeksi. Disebut sinusitis akut bila
lamanya antara 1-3 bulan. Sedangkan sinusitis kronis terjadi bila diderita lebih
dari 3 bulan.
Sinusitis infeksi biasanya disebabkan oleh virus, walaupun ada pula yang
disebabkan oleh bakteri. Sedangkan sinusitis noninfeksi sebagian besar
disebabkan oleh alergi dan iritasi bahan kimia. Sinusitis subakut dan kronis
sering merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak mendapatkan pengobatan
adekuat. "Pada infeksi kronis dapat menyebabkan keluarnya cairan dari hidung
secara terus-menerus dan disertai nanah," terang dr Oetomo lagi.
Pada dasarnya, gejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri
pada daerah wajah yang disertai dengan demam. Hampir 25 persen pasien mengalami
demam yang berhubungan dengan sinusitis yang diderita. Gejala lainnya adalah
wajah pucat, perubahan warna pada ingus, hidung tersumbat, nyeri ketika akan
menelan, dan batuk. Pada sinusitis karena alergi, ada gejala lain seperti gatal
pada mata dan bersin-bersin.
Sebagian besar sinusitis sudah dapat didiagnosa hanya berdasarkan riwayat
keluhan pasien serta pemeriksaan fisik, akan ditemukan adanya kemerahan dan
pembengkakan pada rongga hidung, ingus yang mirip nanah, serta pembengkakan di
sekitar mata dan dahi. Pemeriksaan dengan CT Scan dan MRI baru diperlukan bila
sinusitis gagal disembuhkan dengan pengobatan awal. Rhinoskopi, sebuah cara
untuk melihat langsung ke rongga hidung, diperlukan guna melihat lokasi sumbatan
ostia. Terkadang diperlukan penyedotan cairan sinus supaya bisa dilakukan
pemeriksaan kuman untuk menentukan jenis infeksi.
TERAPI OBAT
Untuk sinusitis yang disebabkan oleh virus, tidak diperlukan antibiotika.
Biasanya diberikan obat penghilang rasa nyeri seperti parasetamol dan
dekongestan. Sinusitis infeksi oleh bakteri baru terjadi bila terdapat gejala
nyeri pada wajah, ingus yang bernanah, dan gejala yang timbul lebih dari
seminggu. Sinusitis infeksi bakteri umumnya diobati dengan antibiotika.
Antibiotika yang dipilih harus berdasarkan jenis bakteri. Ada lima jenis
bakteri yang paling sering menginfeksi sinus, yaitu streptococcus pneumoniae,
haemophilus influenzae, moraxella catarrhalis, staphylococcus aureus, dan
streptococcus pyogenes. Antibiotika yang dipilih harus dapat membunuh kelima
jenis kuman ini. Beberapa antibiotika, antara lain amoxicillin, cefaclor,
azithromycin, dan cortimoxazole.
Jika tidak terdapat perbaikan dalam lima hari, perlu dipertimbangkan untuk
memberikan amoxicillin plus asam klavulanat. Pemberian antibiotika dianjurkan
minimal 10-14 hari. Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat melancarkan
drainase cairan mukus. Pada kasus yang kronis, dapat dipertimbangkan untuk
melakukan drainase cairan mukus dengan cara pembedahan.
TERAPI LASER
Sinusitis juga dapat disembuhkan dengan operasi. Tapi pasien yang takut
menjalani operasi dapat melakukan terapi laser atau laser infra merah. "Kalo
pada umumnya laser untuk operasi, laser yang ini digunakan untuk terapi. Fungsi
yang pertama adalah untuk melancarkan peredaran darah. Kedua, mengurangi
pembengkakan dan membuka sumbatan yang disebabkan oleh radang sehingga cairan
nanah bisa keluar. Ketiga, efek dari sinar laser infra merah ini adalah
mengurangi rasa nyeri dan sebagai antiradang. Dilakukan 3 hari pertama secara
berturut-turut, setelah itu 1 minggu sekali sampai 10 kali terapi. Selain itu,
selama melakukan terapi si pasien juga harus meminum obat antibiotik," tandas dr
Oetomo Hs.
|